Tiga Ormawa FPP UMM Borong Pendanaan PPK Ormawa 2026, Wujud Nyata Inovasi Berbasis Masyarakat
Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan diri sebagai salah satu motor penggerak inovasi mahasiswa di tingkat nasional. Tidak tanggung-tanggung, tiga organisasi kemahasiswaan yang bernaung di bawah FPP sekaligus berhasil meloloskan proposalnya dalam Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Belmawa, Kemendiktisaintek. Ketiga ormawa tersebut adalah Badan Eksekutif Mahasiswa FPP (BEM FPP), Himpunan Mahasiswa Program Studi Agribisnis (HIMAGRI), dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (HIMATEKPA). Capaian ini sekaligus menjadikan UMM sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di wilayah Malang Raya yang berhasil lolos dalam program pendanaan bergengsi tersebut dan sebagian besar kontribusinya datang dari FPP. Keberhasilan ini tidak lahir begitu saja. Jauh sebelum seleksi nasional dibuka, UMM telah menjalankan mekanisme seleksi internal yang sangat kompetitif. Dari ratusan mahasiswa yang mendaftar, hanya sepuluh tim terbaik yang berhasil masuk ke tahap karantina sebuah program pembinaan intensif bersama para ahli, di mana setiap proposal dikritisi, diuji kelayakannya, dan dipastikan tidak sekadar unggul secara akademis, tetapi juga realistis untuk dieksekusi langsung di lapangan. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., menyebut bahwa kunci keberhasilan ini terletak pada pendampingan yang tidak pernah putus. “Kami memastikan mahasiswa tidak dilepas begitu saja. Pendampingan komprehensif kami berikan sejak tahap awal penyusunan proposal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa masa karantina menjadi titik krusial di mana gagasan-gagasan mentah para mahasiswa benar-benar ditempa. “Di masa karantina inilah seluruh gagasan mereka digembleng dan dimantapkan secara intensif, sehingga inovasi yang dibawa tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi benar-benar aplikatif dan siap dieksekusi di desa,” tegasnya. Ketiga program yang lolos dari FPP masing-masing membidik persoalan nyata yang dihadapi masyarakat pedesaan. HIMAGRI mengusung program CRAFT-HUB, sebuah platform berbasis digital marketing yang dirancang untuk membantu pengrajin mendong di Desa Blayu memperluas jangkauan pasar mereka secara digital. BEM FPP hadir dengan inovasi Smart Multifunctional Fermentor berbasis teknologi karbonasi yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas pascapanen petani kopi di Desa Klampok. Sementara HIMATEKPA membawa teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengembangan kawasan eduwisata herbal di Desa Sukolelo. Ary Bakhtiar menegaskan bahwa seluruh program tersebut dirancang dengan orientasi dampak jangka panjang, bukan sekadar kegiatan sesaat. “Secara garis besar, inovasi yang diterapkan adalah kita tidak hanya membantu membranding desa, melainkan juga menitikberatkan bagaimana keberlanjutan dari program ini menjadi salah satu tumpuan utama desa tersebut,” ungkapnya. Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., turut menyampaikan apresiasinya sekaligus memberikan pesan kepada seluruh mahasiswa yang terlibat agar tidak larut dalam euforia keberhasilan awal. Baginya, lolosnya proposal ini baru merupakan pembukaan dari perjalanan panjang pengabdian yang sesungguhnya. “Pendampingan yang berkesinambungan menjadikan program ini tidak hanya sekadar lolos seleksi dan didanai. Lebih dari itu, bagaimana nanti program ini sangat berdampak pada masyarakat, utamanya bagi keberlanjutan usaha yang ada di lingkungan yang di-support oleh Belmawa dan juga UMM,” pungkasnya. Dengan tiga ormawa sekaligus yang berhasil menembus seleksi nasional, FPP UMM sekali lagi mempertegas posisinya sebagai fakultas yang tidak hanya unggul di ruang kuliah, tetapi juga hadir memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat di luar kampus.
Fermentor Cerdas hingga Kebun Herbal Berbasis IoT: Mahasiswa FPP Jawab Tantangan Nyata di Desa
Tiga organisasi mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM resmi mendapat pendanaan nasional PPK Ormawa 2026 dari Belmawa Kemendiktisaintek. Bukan sekadar proposal di atas kertas masing-masing program dirancang untuk menjawab masalah konkret yang selama ini dihadapi masyarakat pedesaan. BEM FPP UMM membawa inovasi Smart Multifunctional Fermentor alat fermentasi cerdas berbasis teknologi karbonasi yang memungkinkan petani kopi di Desa Klampok menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih konsisten dan berdaya saing tinggi di pasar kopi spesialti. HIMAGRI menjawab tantangan pemasaran pengrajin mendong di Desa Blayu lewat program CRAFT-HUB. Program ini membangun ekosistem digital marketing agar produk kerajinan lokal bisa menjangkau pasar yang jauh lebih luas dari sebelumnya. Sementara HIMATEKPA memanfaatkan teknologi IoT untuk mengembangkan kawasan eduwisata herbal di Desa Sukolelo mengubah lahan herbal biasa menjadi destinasi belajar yang interaktif dan berbasis data. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., menegaskan bahwa seluruh program sengaja dirancang berorientasi dampak jangka panjang. “Kita tidak hanya membantu membranding desa, melainkan juga menitikberatkan bagaimana keberlanjutan program ini menjadi salah satu tumpuan utama desa tersebut,” ujarnya. Dengan tiga ormawa sekaligus yang lolos seleksi nasional, FPP UMM mempertegas perannya sebagai fakultas yang tidak hanya unggul di ruang kuliah, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat.