Mahasiswa UMM Dampingi Petani Desa Bocek dalam Pembuatan Biopestisida Alami

Mahasiswa UMM Dampingi Petani Desa Bocek dalam Pembuatan Biopestisida Alami

  Mahasiswa UMM Dampingi Petani Desa Bocek dalam Pembuatan Biopestisida Alami Pada Minggu, 25 Agustus 2025, mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Balai Desa Bocek, Kecamatan Karangploso. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Program Penguatan Kapasitas Ormawa (PPK Ormawa) dengan fokus utama mendampingi petani dalam penerapan pengendalian hama ramah lingkungan. Acara ini dihadiri oleh ketua program studi, dosen pembimbing, penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), mahasiswa, serta ketua dan anggota kelompok tani Desa Bocek, dengan jumlah peserta sebanyak 22 orang. Dalam sambutannya, dosen pembimbing menekankan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa. “Alhamdulillah kita dapat berkumpul di Balai Desa Bocek. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami permasalahan di lapangan, sekaligus memberikan solusi praktis bagi masyarakat. Selain itu, pengalaman ini juga bisa menjadi bekal untuk penelitian dan tugas akhir,” ungkapnya. Materi inti disampaikan oleh Hariyanto, penyuluh pertanian dari BPP. Ia menjelaskan bahwa lalat buah merupakan ancaman serius bagi tanaman jeruk dengan potensi kehilangan hasil panen hingga 40% atau sekitar 20.000 ton. “Lalat buah bertelur di dalam buah jeruk, sehingga cepat busuk. Sayangnya, penggunaan pestisida kimia justru membunuh predator alami yang seharusnya bisa menekan populasi hama ini,” jelasnya. Hariyanto juga menekankan pentingnya teknik penyemprotan yang tepat, misalnya menggunakan air dengan pH netral (7) dan tidak mencampurkan pestisida dengan pupuk daun. Ia kemudian memperkenalkan berbagai bahan alami yang bisa dimanfaatkan petani, seperti daun sirsak, serai merah, dan daun mimpo. “Hari ini kita langsung praktik membuat biopestisida. Dengan memanfaatkan tanaman sekitar, petani dapat mengendalikan lalat buah tanpa merusak lingkungan,” tambahnya. Salah satu peserta, Bapak Anata, menyampaikan rasa terima kasih atas ilmu yang diperoleh. “Kami sangat terbantu dengan pelatihan ini. Pembuatan biopestisida dari bahan alami sangat bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia. Harapannya, praktik ini bisa terus kami kembangkan demi meningkatkan hasil pertanian,” ujarnya. Suasana diskusi berlangsung aktif, dengan berbagai pertanyaan yang ditanggapi oleh pemateri maupun mahasiswa. Dosen pembimbing, Ilmam Zul Fahmi, SP., MSc., juga berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan secara berkelanjutan melalui kerja sama antara UMM, BPP, dan masyarakat Desa Bocek. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, yang menjadi penanda komitmen untuk memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan. (HumasFPP)

Terapkan Smart Farming Agroteknologi UMM, Potensi Wisata Petik Melon Bagi Masyarakat

Laboratorium Program Studi (Prodi) Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Laboratorium Program Studi (Prodi) Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  melakukan kegiatan open greenhouse petik melon dengan teknologi smart farming pada 25 Januari 2025 lalu. Kegiatan tersebut merupakan upaya pemanfaatan lahan edupark milik UMM sekaligus sebagai tempat wisata bagi masyarakat umum. Open greenhouse petik melon tersebut mengundang oleh Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si selaku Rektor UMM, Drs. Wakidi selaku Wakil Ketua BPH, Ir. Hj. Sunarti, M.M selaku Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah, Toha Mashuri, S.Sos, M.M selaku Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Blitar, serta Jajaran Kepala Dinas Pertanian Kota dan Kabupaten Malang. Muhidin selaku Kepala Laboratorium Edupark UMM menjelaskan bahwa smart farming dapat mengefisiensi waktu. Keunggulan smart farming terletak pada pengendalian jarak jauh menggunakan aplikasi di gawai yang memiliki program khusus untuk membantu pemberian nutrisi pada tanaman melon. “Jadi, aplikasi yang kami buat itu bisa memungkinkan penyiraman secara otomatis dan dapat dikendalikan jarak jauh. Kita tinggal mengatur nutrisi agar tanaman dapat ternutrisi dengan baik,” tutur Muhidin. Sebagai informasi, UMM menanam melon jenis Intanin dan Lavender dengan sistem hidroponik dan fertigasi dan alokasi waktu tanam selama 70 hari atau tiga bulan. Melon jenis ini memiliki ciri khas buah berwarna kuning cerah, tekstur lebih renyah, lebih berair, dan memiliki rasa yang manis ketika matang. Menurut Muhidin metode fertigasi dan hidroponik dipilih karena memiliki keunggulan dalam pemberian nutrisi. Metode ini memiliki efisiensi pemberian nutrisi sehingga mudah diserap oleh tanaman. Selain itu, pencahayaan pada tanaman juga dapat mempengaruhi percepatan pertumbuhan. “Permasalahannya itu terletak pada minimnya cahaya alami yang masuk karena dikelilingi gedung cukup tinggi. Tapi hal tersebut kami atasi dengan mengganti material atap greenhouse agar cahaya dapat masuk dengan maksimal,” tambahnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si menyampaikan bahwa perguruan tinggi harus mengambil peran untuk menjawab persoalan praktis di masyarakat. Salah satunya melalui smart farming yang diterapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat dan menjawab tantangan ketahanan pangan mandiri di masa mendatang. “Pengembangan smart farming ini harus terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian. Selain dari segi efisiensi waktu, smart farming seperti ini dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang tidak memiliki banyak waktu untuk bercocok tanam di kebun,” ujarnya. Terakhir, Nazaruddin berharap bahwa kegiatan open greenhouse petik melon ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Ia juga berpesan agar inovasi smart farming yang dilakukan UMM tidak hanya menunjukkan komitmen perguruan tinggi kepada masyarakat dan stakeholder, namun juga selaras dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan.

Tiga Dekade Berdirinya Prodi Akuakutur UMM, Alumni Gelar Reuni Akbar Demi Menyongsong Generasi Unggul

  Memasuki babak baru sejak 3 dekade lalu, Program Studi (Prodi) Akuakultur – Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan reuni akbar bagi para alumni, 25 Desember 2024 lalu. Kegiatan tersebut merupakan wujud dedikasi para alumni dan pendidikan unggul yang tercipta, sehingga melahirkan generasi yang tak hanya cakap, namun juga unggul dalam bidangnya.  Agenda reuni akbar menjadi salah satu cara mempererat tali silaturahmi antar alumni dari berbagai angkatan, civitas akademika UMM, dan mahasiswa aktif Prodi Akuakultur. Reuni akbar tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang tersebar dari berbagai daerah baik di pulau Jawa maupun dari luar pulau Jawa. David Hermawan selaku inisiator terselenggaranya reuni akbar alumni Prodi Akuakultur mengatakan bahwa agenda ini bukan hanya sekedar pertemuan semata, tapi juga untuk mempererat sinergi dan kolaborai antar alumni dengan institusi.“Harapan kami melalui reuni akbar ini dapat terus memberikan kontribusi nyata, baik dalam pengembangan kurikulum maupun dalam mendukung mahasiswa aktif melalui mentoring atau peluang kerja. Ini juga menjadi komitmen kami untuk terus berinovasi dan mencetak lulusan unggul dan berdaya saing global,” kata David. Komitmen para alumni terwujud melalui pemberian beasiswa kepada sederet mahasiswa berprestasi baik regional maupun di kancah internasional. Pemberian beasiswa ini juga tak lepas dari banyaknya alumni sukses yang tersebar di berbagai sektor di seluruh Indonesia, mulai dari industry perikanan, pemerintahan, hingga sektor swasta. Adapun acara tersebut mencakup sharing session perjalanan kiprah alumni bertema ‘Membangun Sinergi dan Kolaborasi Alumni untuk Masa Depan Perikanan Berkelanjutan’ dan sesi pemilihan pengurus Ikatan Alumni Perikanan (IKAPI) UMM periode 2025-2029. Terpilih sebagai Ketua Umum IKAPI adalah Herman Jaya seorang pengusaha dan Direktur PT. Barru Mandiri Nusantara. Ia juga baru saja terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan periode 2024-2029. Wakil rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT, sangat mengapresiasi kontribusi para alumni dalam membawa nama baik universitas. Menurutnya, reuni akbar ini dapat menjadi ajang nostalgia dan berbagi pengalaman antara para alumni, civitas akademika, dan mahasiswa aktif untuk mendukung perkembangan Prodi Akuakultur – Perikanan UMM ke depannya.“Kehadiran dan kesuksesan anda semua di luar sana adalah cerminan kualitas pendidikan yang telah diberikan oleh Prodi AKuakultur UMM. Kami berharap, kegiatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi para penerus,” tambahnya mengakhiri.

Kolaborasi TNI AU dan UMM, Ciptakan Harmonisasi Ketahanan Pangan melalui Kesejahteraan Petani

Demi menyongsong Indonesia emas 2045, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperluas jaringan kerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Kolaborasi ini ditandai dengan penyelenggaraan seminar bertajuk “Kemampuan Wilayah dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan & Makanan Bergizi” sekaligus penandatanganan pernyataan bersama, 16 Desember 2024 lalu. Melalui adanya seminar ini, diharapkan terbentuknya kolaborasi sinergi antara pihak akademisi, instansi pemerintah, dan masyarakat guna mengembangkan visi besar Indonesia menuju Indonesia emas 2045.“Memang benar, ketahanan pangan merupakan isu krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ini membutuhkan orkestrasi yang harmonis dimana, semua elemen bangsa memiliki peran strategis untuk menciptakan lingkungan harmonis dan berdaya saing kuat,” ucap Marsda TNI AU Andi Wijaya selaku Asisten Potensi Dirgantara, Kepala Staf Angkatan Udara. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa adanya TNI AU sebagai salah satu sektor pendukung bukan menjadi pelaku utama dalam menyongsong ketahanan pangan, melainkan adanya TNI menjadi salah satu pelindung untuk mengamankan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Fokus utama dalam menyongsong ketahanan pangan adalah pada kesejahteraan dan inovasi di sektor pertanian. Diyan Anggraini dari PT Thara Jaya Niaga juga memberikan pendapat bahwa inovasi dan hilirisasi produk pertanian menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi ekonomi di sektor ini.“Ketahanan pangan tidak bisa terwujud tanpa kesejahteraan petani. Kita harus mendorong peningkatan pendapatan petani dan menciptakan ekosistem yang baik dari hulu hingga hilir. Contohnya saja seperti negara Thailand dan Vietnam yang telah berhasil memanfaatkan sisa produksi pertanian menjadi nilai tambah ekonomi yang kompetitif,” sambungnya. Diyan juga menyoroti pentingnya memaksimalkan bahan by produk dari pertanian, seperti dedak atau sekam padi. Kedua bahan tersebut belum banyak dimanfaatkan scara optimal di Indonesia dan berakhir hanya menjadi pakan ternak saja. Padahal, kedua bahan by produk tersebut juga memiliki nilai jual tinggi di pasar global. Untuk itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazarudin Malik, SE., M.Si juga menyampaikan komitmen perguruan tinggi untuk mendukung ketahanan pangan melalui inovasi di sektor pertanian organik dan pemberdayaan petani lokal.“Kami telah membuktikan bahwa perguruan tinggi mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan petani. Melalui kerjasama ini, harapannya dapat tercipta sinergi berkelanjutan dalam mendukung kemandirian pangan nasional dan visi Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.Melalui program Center of Excellent milik UMM juga turut mengambil peran dalam menyongsong ketahanan pangan. Didikan dan binaan mahasiswa melalui program CoE ini dapat menjadi bekal untuk mengabdikan diri kepada masyarakat demi terciptanya kehidupan yang berkelanjutan. Terakhir, Prof. Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si., IPU, ASEAN Eng selaku Dekan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM menyampaikan bahwa pelaksanaan kerjasama ini kedepannya bisa dikembangkan sesuai lingkup Tri Dharma perguruan tinggi yang bersinergi dengan TNI AU agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat secara langsung.“Melalui adanya kolaborasi ini semoga dapat menjadi bekal kami dalam mempersiapkan mahasiswa UMM siap terjun ke masyarakat. Melalui adanya program CoE dan entrepreneurship menjadi pendorong dan bekal mahasiswa untuk siap melaksanakan dan menyukseskan visi Indonesia emas 2045,” ucapnya mengakhiri.

FPP UMM: Kenalkan Produk Unggulan Karya Akademisi di Seminar Nasional Ketahanan Pangan

Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkenalkan produk unggulan hasil karya akademisi dalam pagelaran seminar nasional ketahanan pangan. Acara bertajuk “Kemampuan Wilayah dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan & Makanan Bergizi” menjadi agenda peresmian kolaborasi antara UMM dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan udara (TNI AU) Sabtu, 16 Desember 2024 lalu. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendukung program ketahanan pangan dalam visi besar Indonesia menyongsong Indonesia emas 2045. Melalui agenda seminar tersebut, diharapkan terjadinya kolaborasi aktif antara akademisi, pemerintah, maupun masyarakat demi menyongsong ketahanan pangan dan menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan. Melalui pidatonya, Andi Wijaya selaku Asisten Potensi Dirgantara Kepala Staf Angkatan Udara menyampaikan bahwa TNI AU memang bukan menjadi pelaku utama di bidang pertanian. “TNI AU dapat berkiprah dalam sistem pertahanan dengan melindungi dan mengamankan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia,” ucapnya melanjutkan. Dalam kegatan tersebut UMM memperkenalkan beberapa produk unggulan hasil kolaborasi akademisi dengan petani lokal. Kolaborasi tersebut menciptakan prouk yang memiliki nilai jual baik di kancah nasional maupun internasional. Produk tersebut meliputi Minuman sari mawar “Elviza” ciptaan Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Sa’ati, MP; “Biofarm” pupuk organik cair karya Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU; Karbol serai hasil karya mahasiswa kolaborasi Center of Excellent (CoE) Prodi Kehutanan; dan Cokelat Moodco kerjasama CoE Prodi Teknologi Pangan. Produk tersebut merupakan salah satu upaya UMM dalam mendukung program ketahanan pangan melalui terciptanya sistem pertanian berkelanjutan dan pemanfaatan sumber potensial kekayaan alam Indonesia. Tak hanya itu, produk tersebut juga dijadikan buah tangan dalam pagelaran seminar yang bertajuk ketahanan pangan tersebut Prof. Dr. Nazarudin Malik, S.E., M.Si menyatakan bahwa adanya produk tersebut merupakan komitmen UMM dalam mengukseskan misi besar Indonesia emas 2045. “Kami juga telah membuktikan bahwa perguruan tinggi mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan petani. Melalui kerjasama ini, harapannya bisa tercipta sinergi berkelanjutan dalam mendukung kemandirian pangan nasional dan visi Indonesia Emas 2045,” ungkapnya  Melalui produk hasil karya akademisi FPP UMM ini menjadi harapan bahwa sebenarnya Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang berlimpah. Produk karya dosen UMM itu juga menjadi bekal dan semangat UMM untuk membina mahasiswanya agar siap terjun ke masyarakat.“Produk yang telah diperkenalkan merupakan hasil jerih payah dosen yang berkolaborasi dengan mahasiswa untuk membuka potensi SDA yang dimiliki Indonesia. Hal itu juga tercermin melalui adanya program CoE dan entrepreneurship,” ucap Prof. Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si., IPU., ASEAN Eng selaku Dekan FPP. Melalui program tersebut, mahasiswa dibina dan didorong secara aktif untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam membangun bangsa yang lebih baik. Program CoE juga dapat menjadi pendorong dan bekal mahasiswa untuk siap melaksanakan dan menyukseskan visi Indonesia emas 2045.

Dosen UMM Temukan Farm Mapper

Kota Malang, Bhirawa Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wahono menemukan cara spektakuler untuk pemetaan lahan dan penyebaran bibit di daerah yang sulit dijangkau manusia. Wahono, menciptakan pesawat tanpa awak (drone) yang diberi nama Farm Mapper. Kandidat Doktor Universitas Gajah Mada (UGM) ini merancang sendiri alat-alat tersebut untuk menyelesaikan disertasinya dengan fokus pada inovasi yang mendukung kebutuhan pupuk untuk tanaman di area yang sangat luas. Awalnya ia hanya ingin membeli pesawat sejenis untuk mendukung disertasinya. Namun karena harganya sangat tinggi, lebih dari Rp 700 juta, muncullah ide untuk menciptakan drone sendiri. “Untuk membuat pesawat ini, saya harus menguji coba ulang dengan memodifikasi dari model pesawat tanpa awak sejenis yang sudah ada sebelumnya,” ungkapnya. Dengan background keahlian di bidang teknologi informasi, drone yang dikembangkan Wahono diyakini memiliki teknologi high resolution real time. Pesawat ini mampu memetakan (mapping) wilayah hingga luas 800 sampai 900 meter sekali terbang dalam waktu dua jam. “Hal ini tentu membuat proses pemetaan lahan jadi jauh lebih efektif dan efisien. Kalau harus mengukur satu persatu ke lapangan membutuhkan waktu lama dan mengeluarkan biaya yang sangat tinggi,” kata dia. Mantan kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Komputer UMM ini, menyatakan Farm Mapper menggunakan sensor canggih yang mampu memetakan area luas tanpa menggunakan remote control. “Kita tinggal program pesawat ini mau terbang ke area mana yang akan kita mapping, sambil melihat proses pemetaan di front station pada layar komputer, sampai dia kembali lagi,” terangnya. Hasil pemetaan yang diperoleh tadi langsung terunggah di komputer yang telah dipasang aplikasi khusus. Data tersebut bisa direkonstruksi dalam model 2D dan 3D. Selain untuk bidang pertanian, Wahono menuturkan, Farm Mapper juga bisa digunakan untuk pemetaan terumbu karang dibawah permukaan laut pada pulau-pulau kecil. Diakui dia, banyak kendala yang ia hadapi saat proses uji coba, mulai dari hal teknis sampai hilang saat pesawat jatuh. “Seperti saat hujan deras, pesawat yang kita terbangkan terjebak dan hanya bisa berdiam di udara hingga baterainya hampir habis. Saat hujan reda, pesawat memang bisa kembali terbang normal,” tuturnya. Namun karena baterai hampir habis pesawat tidak sampai kembali ke orbit awal dan akhirnya pesawat yang ia buat dengan biaya sekitar 20 juta itu pun jatuh. “Waktu itu tempat jatuhnya berjarak sekitar 2 km, saat saya mau ambil ternyata sudah hilang,” tuturnya. Kedepan, Wahono berencana mempercanggih drone ciptaannya itu. Ia akan menambahkan sensor collision avoidence dan route alternative yang mampu menghindari tabrakan pesawat dari objek tak terduga didepannya hingga pesawat mampu mengubah arah secara otomatis.  [mut] Author by Helmy SupriyatnoPosted on 12/04/2016 Sumber : http://harianbhirawa.co.id/2016/04/dosen-umm-temukan-farm-mapper/

Curriculum Workshop Based on KKNI Agriculture and Husbandary Faculty

There are no one of the participant stood on their sits since the beginning until the end of agenda. The interesting and important material, then high commitment in developing institutions and alumni, and also the delivery of fun material from the spokesperson, Ir. Endrotomo, MSc became the reasons.   The curriculum workshop based on KKNI (Curriculum Qualification of Indonesian Nation) was important to do because UMM Agriculture and Husbandry Faculty (FPP) wants to ensure and improve the quality of education, in order to assure the work world about the quality of labor candidates due of the curriculum based on KKNI which has the purpose to give the qualification towards individual according to their learning accomplishment. By this KKNI-based curriculum, the graduate students of local state and private universities will be equal with the graduates from universities abroad, considering that KKNI has been approved internationally. Thus, the accreditation criteria for university and study program will also be based on KKNI.   The evaluation of curriculum will be executed gradually in faculty and study program level. The evaluation and preparation will involve all units such as similar study program, associated expert group, profession organization, government, and alumni’s employers. After graduated, the alumni will not only get diploma and transcript during college period, but they also obtain Certificate Diploma Companion which consists of the note on all ability and achievement of the FPP graduate.

Agung Irawan Animal Husbandry Department Achieve International Achievement through Jenesys 2.0 Progra

Again, Faculty of Agriculture and Animal Husbandry UMM created the achievement in international level. This time Agung Irawan the student of Animal Husbandry Department who got chance to visit Japan through Jenesys 2.0 (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth). This program that was followed by 96 students from around Indonesia will be run in 2 weeks (23/02-04/03). According to Agung, selection process to be accepted in that program consists of two steps those are administration selection and direct interview via telephone. He said more than 2000 registrant who followed this selection program. “In first step the committee selected 150 the candidate best participants from all registrant, then in interview step the committee set 96 elected participants,” said that eighth semester student. Furthermore, the student who ever hold the predicate third winner achiever student UMM level explained, Jenesys program purposed to strengthen the basic of diplomatic relation between Japan and each Asian countries and Oceania. This program fully financed by Japan government, and conducted by Japan International Cooperation Center (JICE) and Japan ambassador in Indonesia and The Community University of Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta (PPIM UIN Jakarta) as selection team. While in Japan, the participant will participate some activity there are visit to some Japan companies to know exactly about cutting edge with high technology that to be developed and to know more closely about “made in Japan”, visit to some province in Japan to improve the understanding about cultural power, attraction, and local value in Japan, and visit historical architecture, religious building, and world heritages in Japan. “This program is also purposed as the process of internationalization some areas in Japan by emphasizing youth as human resource,” he added.

Riza Rahman Hakim Reveals The Potency of Castor Oil Seed as Fish Feed

Nowadays, the seed of castor oil (jarak) is commonly used as the ingredients for fuel. However, it turns out that the waste can be recycled to become the ingredients for fish feed of protein economically. Reza Rahman Hakim S.Pi, M.Sc., the Animal Husbandry Dept. lecturer has proven through his research. Due of his discovery, the Bojonegoroan lecturer successfully holds the Master of Science title in the Department of Aquaculture, Kasetsart University, Thailand. The idea appeared when seeing the reality of Indonesia that lacking the energy source from fish feed. According to Reza, bungkil/oil cake (from soybean) and fish flour as the protein source currently are getting hard to find and the existence compete with the human needs. Based on this, he continued, the existence of fish feed ingredients of protein source that can replace the function of the expensive bungkil is necessary. “After straining the oil, the waste of those seed is dumped and not useful. It turns out that this waste is able to replace 75 % of soybean flour, of course it’s very efficiency and economic,” said by the achiever of abroad scholarship from Dikti. Moreover, he explained that in order to be a feed, the oilcake of jarak seed must be detoxified prior in order to remove its contents of toxin and anti-nutrients substances. On this process, he built cooperation with Chemistry Department of Kasetsart University. The result showed that the content of crude protein from the jarak seed oilcake is almost equal with the soybean oilcake. “It turned out that the contents of amino acid in the jarak seed oilcake is also better than soybean oilcake”, added by the lecturer who got the best presenter for young lectures’ research by Kopertis VII. According to him, jarak seed oilcake is still very rare to be applied in Indonesia. It makes him sure about its big potential to be developed. In the future, he plans to continue in developing his research until it can be used widely in fishery field. “If UMM will expand the unit production of jarak seed biodiesel, of course it becomes the strategic way to continue its expanding so that it can be truly integrated and zero waste,” he said. Through his study in the White Elephant country, he also explained that its advancement in managing fishery farming sector must be exemplary for Indonesia. All fishermen of small until industrial scales already apply good fish farming procedure or Good Aquaculture Practice. Moreover, the good relationship between university and stakeholder can be seen clearly. “The university has become the stakeholder’s reference in providing quality fish,” he said. (agung/t_iqa)

Agriculture and Husbandary Faculty Passes 17 Graduates

Again, The Faculty of Agriculture and Animal Husbandry graduated 17 the candidate of graduates in 71st graduation agenda, first period in 2014. Judicium procession for the candidate of graduate was held in FPP courtroom (15/02). Before the procession is begun, FPP gave soft skill equipment as the form of responsibility and effort to create the competent graduate and ready to fight.   In that event, was attended by Yudi Suharsono S.Psi, M.Si psychology expert from UMM as trainer that gave the material about soft skill development and tips to enter world work. Through his material, the candidate of agriculture and animal husbandry graduate was asked do not be the failed product. According to him, one problems of university graduate is less confident. “Most of them not confident so cannot compete, so to know self-potency is very important,” said Vice Dean I Faculty of psychology UMM.   While, the Dean of FPP, Dr. Ir, Damat, M.P, he proud of judicium this period, there were 5 candidates of graduate that able finished faster 3 years 6 months. According to him, it is the greatest achievement with the GPA that near to perfect. However, he hope who got the greater GPA more motivated to improve their achievement. He added, the final of study do not be the end of learning. “The great GPA is plus value but not guarantee, so use the plus value and balance with good soft skill ” he said. As the previous years, FPP always gave the award to the higher GPA. In this time,  FPP  assigned three the higher GPA that was achieved by Moh. Khoirul Hidayat from department of fishery with GPA 3.95,  Jefri Lukmana Lazaroni from department of fishery with GPA 3.93, and Gharisa Kharismartanata from Department of Forestry with GPA 3.90.(agung)